I Love Her
Ada banyak cerita sebenarnya. Jika saya tuangkan disini, takutnya sampeyan nanti jadi bingung. Biar sampeyannya ngerti, saya share foto ini saja. Semoga mewakili..
Saya mencintai dia..
Posted with WordPress for BlackBerry.
Mencintai Dengan Sederhana
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yg tak sempat diucapkan api kepada kayu
yg menjadikannya abu..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yg tak sempat diucapkan awan kepada hujan
yg menjadikannya tiada..
Itu bait-bait dari Sapardi Djoko Darmono. Seorang pujangga terkemuka yg dikenal dari berbagai puisinya yg menggunakan kata-kata sederhana.
Apa jadinya jika bait-bait puisi tersebut dilantunkan dengan iringan musik, diiringi dengan nada-nada dari gitar? Saya pernah dengar beberapa hari lalu di acara bulanan Kenduri Cinta di TIM. Dan hasilnya? Cantik. Alunan nada-nada itu menambah indah setiap bait puisinya yg begitu sederhana.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Tapi bagaimana jika sosok yg kita cintai adalah makhluk yg istimewa? Dia punya segudang kelebihan dibandingkan kita sebagai pencinta? Tak hanya secara fisik, melainkan jg secara intelektual, kepribadian, dll. Bisakah kita mencintainya secara sederhana?
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Bagaimanakah bisa mencintai seseorang dengan sederhana bila kita ingin selalu terlihat istimewa di depan dia? Mungkin dengan menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Ya, tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun setiap orang juga punya standar masing-masing tentang kelebihan dan kekurangan.
Mencintai seseorang yg mempunyai segudang kelebihan memang memotivasi kita untuk menjadi yg lebih baik lagi. Tapi lantas jangan sampai kita terjebak dalam ekspektasi yg berlebihan. Karena ekspektasi itu bisa menjadi hal yg membuat kita tidak bisa mencintai dengan sederhana. Kita tidak mau terjatuh dalam jurang kekecewaan yg sangat dalam yg membuat cinta kita luntur karena ekspektasi yg berlebihan.
Ya .. Seperti api dan awan, aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana. Itu saja.
Posted with WordPress for BlackBerry.
.
Ketika sampeyan berhenti disaat memulai maka disitulah terbentuknya titik. Mengapa? Karena saat pena diangkat tepat ketika tinta jatuh, hanya titik yg bisa dihasilkan. Belum huruf, apalagi kata. Jd, definisi titik adl ketika disitu dimulai, disitu pula diakhiri.
Mengapa manusia harus memulai kalau akhirnya cuma harus diakhiri? Bukankah tanpa memulai, akhir itu otomatis datang sendiri? “Mengapa kau datang hanya untuk pergi, mengapa harus berjumpa kalau akhirnya berpisah,” kata lagu pop.
“Mengapa dicintai kalau hanya disakiti?” Kata lagu pop lain. “Mengapa harus hidup kalau hanya untuk mati?” Kata si putus asa. “Mengapa harus makan kalau hanya untuk lapar?” Kata humoris.
“Kalau semua harus mati, kenapa ada kehidupan?” Kata si putus asa lagi. “Mengapa dari ketiadaan harus dibuat ada. Setelah ada kok mbalik lagi jadi tiada. Ini mbingungi!” Kata filsuf.
Ah, titik ..
Posted with WordPress for BlackBerry.
Dirgahayu Indonesia
Jika sekarang ini Ibu pertiwi sedang bersusah hati, karena mungkin ada anaknya yang nakal atau sedang ada musibah, maka sebagai anak, saya akan berusaha membelai punggungnya. Mudah-mudahan bisa mengurangi rasa gundahnya itu. Mungkin juga sambil berkata, “Bu, apa yang bisa saya bantu..??”. Atau mungkin hanya diam saja, tapi saya memeluknya.
Sudah 66 tahun sekarang usianya. Saya kok ya belum bisa ngasih kado apa-apa. Paling saya hanya mencoba menawarkan cinta saya saja. Dan saya yakin ada banyak yang menawarkan hal yang sama. “Ngasih kado kok yang umum. Mbok ya ngasih yang lain”, begitu saya mbatin. Lha mau gimana lagi, saya baru punya itu je.
Dirgahayu Indonesiaku..!!
Btw, sampeyan mau ngasih kado apa?
Malam itu ..
Ijinkanlah saya sejenak untuk nulis barang sehari iniii saja, dan doakan mudah-mudahan saya kuat.
Malam itu seharusnya menjadi malam yang membahagiakan, walaupun tanpa telor, secara tidak langsung buat saya, tapi lebih-lebih untuk orang yang saya sayangi itu.
Langit malam itu sangat indah. Bulannya penuh, bintangpun terlihat seperti kunang-kunang. Awalnya setelah berbuka puasa, saya ingin sekali mengajaknya ke satu tempat dimana dia ingin sekali kesana. Tempat dimana dia bisa melihat bintang dan bulan secara bersamaan, dan tanpa digigit nyamuk. Alangkah bahagia rasanya duduk bersama dibawah sinar-sinar kecil, menikmati secangkir kopi, dan yang pasti bisa melihat kebahagiaan di bola mata indahnya. Namun apa daya, karena suatu hal, tempat itu belum berhasil dikunjungi.
“Gpp kok, kadang nggak semua yang kita inginkan akan selalu kita didapatkan..” Kata-katanya masih terngiang di batok kepala saya. Dan membuat saya termenung seperti orang bingung. Seharusnya saya nekat saja mengajaknya kesana, melihatnya tersenyum dan bahagia.
Saya ndak bisa memberi apa-apa yang layak buatnya hari ini. Tapi kalau boleh biarkan saya mengiriminya baris-baris contekan ini sambil melantun :
menari-nari kita trus menari meski hujan rintik turun
menari .. bersama alunan angin malam berpelukan
denganmu berbagi senyuman, denganmu ooh
melayang-layang kita trus melayang meski langit tanpa bintang
mendayu-dayu suara daun yang berjatuhan bermesraan
denganmu mengisi lamunan, denganmu ooh
reff:
oh lihat kita bertaburan bunga-bunga
kupu-kupu saling menyapa mengejar cinta
terbang bersama ke sana, menari-nari asmara
berjalan-jalan memecah genangan jejak air rintik hujan
bergandeng tangan berdua nyanyikan lagu cinta nostalgia
denganmu menggapai khayalan, denganmu ooh
repeat reff
denganmu mengisi lamunan
denganmu menggapai khayalan
denganmu oh bahagia
repeat reff
oh lihat kita bertaburan bunga-bunga
kupu-kupu saling menyapa mengejar cinta
terbang bersama ke sana (terbang bersama ke sana)
menari di atas sana (menari di atas sana)
melantunkan lagu cinta (melantunkan lagu cinta)
menari-nari asmara (menari-nari asmara)
Hidup ini jadi ndak teratur karena saya mengenalnya, tapi sungguh, saya bahagia, karena saya bisa jatuh cinta kepada tiga hal yang sangat berharga : dirinya, rembulan, dan kopi. Saya ndak omong kosong ini. Saya benar-benar menyayanginya. I really do.
