Cerdasnya Tikus Zaman Sekarang

2 February 2010 breq Leave a comment

Tikus yang saya maksud ini bukan gambaran dari seorang koruptor. Memang benar ada banyak kesamaan diantara mereka. Namun yang akan saya bahas disini adalah benar-benar tikus. Kenapa ada kata cerdas, karena memang tikus zaman sekarang sudah lebih cerdas dari nenek moyang mereka yang takut pada kucing. Sialnya, kucing sekarang juga beda dari leluhurnya. Dia mulai tidak tertarik pada tikus.

Pertama, karena memang dilihat secara bentuk fisik, antara kucing dan tikus hampir sama besarnya. Jadi bagi kucing, menangkap tikus adalah pekerjaan yang melelahkan. Jika dia kucing rumahan, dia tak perlu repot-repot mencari makan. Sang majikan selalu menyediakan. Jika dia kucing liar, mending mencari makanan sisa-sia seperti tulang belulang didekat warung-warung makan. Bahkan kalau perlu sampai menyatroni meja makan rumah warga yang lengah.

Kecerdasan kucing sepertinya mulai menurun. Sementara kecerdasan tikus semakin meningkat. Lengkap sudah! Zaman ini adalah zaman keemasan tikus-tikus, terutama tikus-tikus got ini. Kenapa? Karena got-got di Indonesia begitu buruknya. Perumahan dibangun dimana-mana. Dari yang murah sampai yang mewah, tetapi menyimpan got yang buruk dibawahnya. Got-got yang buruk inilah yang menjadi awal kebangkitan tikus zaman sekarang untuk membangun kerajaannya. Sempat juga saya dengar bahwa Istana Negara yang gagah itu pernah disatroni kawanan tikus. Serius! Ini Istana Negara, apalagi rumah-rumah kita.

Kita hanya bisa membangun cantik diatasnya, namun buruk dibawahnya. Sesuatu yang di permukaan selalu lebih dipentingkan daripada dibawah. Keberanian tikus menyatroni rumah-rumah ini benar-benar merendahkan wibawa tuan rumahnya. Mungkin kita lebih berani melawan pencuri yang masuk ke rumah daripada melawan tikus-tikus. Mukanya yang nggilani, menjijikkan, ditambah bau busuk merupakan penderitaan tersendiri. Jika dipasang perangkap, cuma satu tikus yang terjerat. Yang lain seperti telah saling memberi kabar agar tidak tertipu oleh jerat yang sama. Dan jika racun ditebar, dia malah membalasnya dengan sangat tega.

Tikus yang keracunan itu akan berlari ke tempat-tempat yang sulit dan memilih mati disana. Luar binasa! Mau mati pun, dia menyalurkan pelecehan kepada manusia. Tak hanya melecehkan, tetapi juga menyusahkan. Karena tikus mati itu baru ketahuan setelah baunya menyengat. Dan bau yang menyengat itu juga karena tubuhnya rusak. Padahal, untuk berani mencari dan membersihkan bangkai itu adalah sebuah penderitaan yang sangat. Taruhannya adalah muntah.

Tikus-tikus itu nekat karena mereka banyak dan mungkin juga lapar. Banyak karena kita seakan memeliharanya. Kita adalah peternaknya. Kita membangun keindahan semu dipermukaan, tapi melupakan kemampatan disaluran dasar. Kecerdasan tikus semakin meningkat bebarengan dengan merosotnya kualitas manusia ? Mungkin.

Categories: Merenung

Taat = selamat

11 November 2009 breq Leave a comment

Saya heran pada para pengguna jalan yg hobinya lewat jalur yg bukan semestinya. Contoh pertama yaitu jalur busway. Lha wong jalur itu memang dibangun pemerintah khusus untuk busway kok masih saja dilewati. Sudah jelas-jelas ada rambunya “Dilarang melintas kecuali Busway”. Mungkin ndak ngeliat..?? Oh, bisa saja. Kan orang nyetir itu harus konsentrasi ke jalan. Kalau dia konsentrasi ke jalan, kok ya masih iseng lewat jalur yg bukan jalannya itu. Lantas apa yg punya jalur marah..?? Kalau dia manusia, wajarlah marah. Lha kepentingannya diusik. Tapi si busway juga sadar kalau jalan itu bukan miliknya pribadi. Jalan itu merupakan jalan umum yg dibangun memakai uang rakyat dari pajak. Mungkin si pengendara iseng itu juga ikut ‘urunan’. Makanya, supaya ‘miliknya’ bisa kembali, si busway minta tolong ke pak polisi untuk menertibkannya. Yg namanya polisi, kalau disuruh menertibkan ya seneng-seneng aja. Tinggal priiiit.. Tilang. Ndak mau sidang ya bayar. Ah, klise..

Contoh kedua, ini yg ndak kalah ekstrim. Sering saya lihat ketika berangkat atau pulang ngantor. Tiap saya lewat jembatan penyebrangan, selalu saja ada motor atau sepeda yg ikut lewat. Lah..!! Jembatan yg sedianya digunakan oleh pejalan kaki untuk menyebrang jalan, sekarang juga digunakan pengendara motor untuk memotong jalan. Mereka beralasan karena jalan untuk putar balik terlalu jauh. Lalu, dimana pak polisi..?? Lha kan mereka sedang asyik menilang yg lewat jalur busway..

Bukan maksud saya menjelek-jelekan polisi. Polisi itu juga profesi yg mulia. Tugas mereka tidak bisa dianggap remeh. Yg saya maksudkan disini adalah tingkat kesadaran para pengendara yg mulai menurun. Semua itu pasti ada aturannya. Dan percayalah bahwa aturan itu sifatnya baik. Yg salah pasti dihukum. Selama diikuti dengan baik, semua akan berjalan tertib. Polisi juga tidak akan asal tilang. Jadi, dengan taat anda selamat.

Categories: Iseng

Macet

6 November 2009 breq Leave a comment

Macet.. Kata yg lumrah jika sampeyan tinggal di kota besar. Apalagi yg tinggal di ibukota seperti Jakarta ini. Setiap hari berjuang dari kemacetan. Pagi macet. Siang macet, sore macet. Saling sikut, saling berebut jalan untuk berbagai tujuan. Di pagi hari ada yg berangkat kerja, berangkat sekolah, ke kampus, ke pasar mungkin. Siangnya pada keluar makan siang di cafe, naik mobil, naik taksi, naik angkot. Macet lagi. Sore..?? Wah, bisa tambah parah. Bagi yg tidak suka lembur, jam 4 sudah pada berhamburan keluar kantor. Istilahnya pada jaman sekarang : Tenggo, Teng langsung Go.

Mungkin bagi beberapa orang yg jarang punya urusan mendesak, macet bukanlah hal yg penting. Mereka bisa santai nyetir mobil sambil dengerin Gen FM. Sambil ketawa kalo pas sedang diputar acara “Salah Sambung” dari Kemal. Nah, bagi yg sering atau kebetulan punya urusan mendadak..?? Jangankan dengerin radio, mungkin di stel aja nggak. Bukannya dzikir supaya selamat sampai tujuan seperti anjuran kyai-kyai, malah ngomel sendiri. Nyalahin angkot nge-tem sembarangan lah, ngomelin motor yg dengan sesuka udelnya nyelip zig zag.

Lha misuh-misuh seperti ini sebenarnya nggak perlu. Nggak mutu. Justru malah membahayakan diri kalau kita tidak kuat menahan emosi. Lha misalkan, dalam keadaan emosi, tiba-tiba mobil atau motor kita kesenggol sedikit. Yg ada biasanya yg saya tahu ujung-ujungnya cekcok mulut. Parah lagi kalau sampai berantem. Lebih parah lagi kalau sampai membalas mencelakai. Kalau sudah sampai berantem atau saling mencelakai, hanya ada 2 tujuan : yg satu ke rumah sakit, yg satu lagi ke kantor polisi. Sama-sama nggak enak kan..??

Hal ini tidak akan terjadi jika kita bisa menahan emosi. Istighfar-istighfar. Kalaupun ada sesuatu, bisa dibicarakan dengan kepala dingin tanpa ada baku hantam. Selalu berdzikir, minta kepada Tuhan supaya diberi keselamatan sampai tujuan. Kata ustadz, berdzikir bisa meredam emosi, bisa menenangkan hati, dapat pahala lagi. Jadi, tidak hanya dalam beribadah saja kita berdzikir. Dalam berbagai hal apapun, kita bisa mendapatkan pahala. Termasuk di kemacetan.

Memang sampeyan nggak marah kalo mobil atau motor sampeyan disenggol orang..?? Ah, saya cuma manusia biasa yg tak luput dari sifat lupa..

Categories: Iseng, Merenung

Kruntelan..

29 September 2009 breq 2 comments

Pada selembar tiket kereta, ada tercantum nama penumpang, tempat berangkat, tempat tujuan, nomer kereta, tanggal keberangkatan dan yang paling penting … nomer tempat duduk. Lha karena nomer tempat duduk sudah ditentukan dan semestinya nomer yang sama tidak akan diberikan kepada lebih dari satu orang, maka rada aneh ngelihat pemandangan jejalan para penumpang di pintu masuk. Kesannya kalau ndak umpel-umpelan begitu, bakal ketinggalan kereta atau tempat duduknya bakal dikuasai orang lain.

Pemandangan seperti itu sering saya saksikan. Termasuk ketika akan mudik kemarin di Gambir. Mas-mas bersuara ayu itu belum lagi mengumumkan kalau kereta akan berangkat, jejalan di depan pintu sudah terjadi. Sakjane nyapo tho wong-wong iki..?? Apa saya heran? Dulu iya, belakangan sudah jauh berkurang. Kenapa? Para manusia penggemar kruntelan di depan pintu itu ternyata tak hendak berebut kursi, tetapi berebut tempat menaruh barang tentengan, jinjingan, gendongan atau seretan mereka yang letaknya ada di atas bangku penumpang.

Hal-hal begini sudah tidak asing, apalagi kalo pas mudik lebaran. Mereka membawa banyak barang katanya untuk oleh-oleh sodara, atau kulakan baju yg akan dijual lagi dikampung. “Bu, kayaknya bawaannya banyak ya..” tanyaku ramah. “Iya mas, mumpung di Tanah Abang kemaren diskon gede-gedean. Lumayan untuk ponakan-ponakan disana. Tadinya motor juga mau saya bawa, tapi ndak boleh sama suami saya..”

Saya sendiri bagaimana? Saya males umpel-umpelan di depan pintu begitu, capek berdiri. Mending ngemil dulu ruang tunggu. Lha barangnya nanti ndak dapat tempat..?? Ooo…saya ndak pernah bawa barang besar dan berat kok, bikin sakit bahu saja. Lagian kalo mau bawa barang banyak, biasanya saya paketkan dulu ke jasa pengiriman barang.

Jadi, biarkan saja mereka berebut masuk kereta, saya masuknya belakangan saja. Saya selalu menunggu semua sudah berkumpul, baru saya masuk.

Categories: Iseng

Petualangan si bolang..

12 September 2009 breq Leave a comment

Malam hari emang paling asyik kalo dibuat jalan-jalan..
Udaranya nggak panas, nggak terlalu macet, dan nggak bakal keliatan kalo kita nggak pake baju..

Oke, malam minggu itu seperti hari-hari biasa di bulan puasa, kita berbuka sambil joget-joget pertanda bahwa puasa hari ini berjalan sukses tanpa kendala berarti..

Tiba-tiba si Gembuk lewat mulutnya yg ceplas-ceplos nyeletuk, “Ke puncak nyok..??” Lah, celetukan konyol itu ternyata diamini oleh yg laen.. Solo, Uzik, Petruk, dan saya manggut-manggut aja kayak ondel-ondel.. Dengan cekatan kita pun bersiap diri.. Yg belom mandi segera ngibrit ke kamar mandi, yg belom pake celana segera pake celana..

Sekitar pukul 21:00 kita berangkat lewat Depok-Ciawi-Bogor-Puncak..

2 jam lebih memacu motor, akhirnya kita nyampe juga di puncak.. Satu hal yg bisa dipastikan kalo itu puncak adalah udara yg dingin dan jalanan berkelok yg menanjak (ya iyalah). Konon katanya, pemandangan di puncak itu cakep banget, indah, keren.. Eh, ternyata kita ga ngeliat apa-apa disana.. Gelap banget (geblek, mau liat ape lu tengah malem..??)

Menurut saya, kalo hawa-hawa dingin gini bawaannya ngemil mulu.. itu menurut saya, tau kalo yg laen.. Alhasil, 4 kopi, 4 jagung bakar, dan 2 nasi goreng kita lahap dengan sadis..

Karena pemandangan kurang menarik, lagian hari masih tengah malem, dan menuju pagipun masih sangat lama, daripada digebukin yg punya warung ni orang kagak pulang-pulang, akhirnya kita putuskan perjalanan lanjut ke Sukabumi..

Ditengah perjalanan yg gelap gurita menuju Sukabumi kita mencoba tetap hati-hati.. Sekedar informasi, kita jalan sekitar 30 km/jam.. Karena jalanan menurun tajam, jadinya kecepatan bertambah jadi 80 km/jam.. Selang sejam, kita nyampe Cianjur.. Ke Sukabumi kurang lebih 1,5 jam lagi.. Dan kita punya target udah ada di TKP sebelum sahur..

Ada kejadian ketika disuatu pertigaan, Solo,Gembuk, dan Petruk yg berada di depan dengan sotoynya belok kekiri tanpa ngeliat papan petunjuk bertuliskan : BANDUNG.. Geblek..!! Spontan aja saya dan Uzik berusaha nyalip mereka trus teriak “Woy.. Lu pade mau ke Bandung..?? Cepet cari puter balik..!!” Teriakan itu cuma dibales ngakak bersama.. Dasar kutu kampret..

Aspal Cianjur-Sukabumi ga terlalu bagus.. Jalannya bergelombang tapi itu yg menjadi seru.. Apalagi kalo yg dibonceng seorang cewek.. Yakin ente bakalan ditonjok idup-idup kalo ngebut lewat situ..

Singkat cerita, target berhasil.. Sampe di Sukabumi sebelum sahur, sekitar pukul 02:00.. Saya rasa, pantat ini udah kayak perut Ade Rai, six pack.. Kita nginep dikosan temennya Uzik.. Leyeh-leyeh sambil nungguin warung buka buat sahur.. Lepas sahur, kita keliling ke kayangan (baca : bobo’)

Yg namanya Sukabumi itu, ga pagi ga siang udaranya sama-sama uadem naudzubillah.. Kalo dimasukkan ke rumus persamaan : Hawa Dingin + Selimut = Ngorok + Ngiler, maka kita ga sempet liat matahari bangun tidur.. Yg ada matahari udah mandi, udah rapi, pake bedak trus ngedot susu.. Ga panas sih, cuman jatah keliling-keliling Sukabumi jadi minim karena kita bangun kesiangan.. Dan malemnya harus balik ke Jakarta..

Lanjut, kita berangkat ke tempat wisata pertama, Curug Cibeureum.. Lho, ga pake mandi..?? Eiya, mandi kok.. muka doang.. uadem puol jadi males mandi..

Untuk menuju lokasi curug, kita dimanjakan pemandangan yg keren, cantik, dan aneh.. Perkebunan teh yg nampak hijau royo-royo kayak boxer favoritku terbentang disekeliling perjalanan.. Tau gitu tadi kita bawa gula sama air.. Tinggal metik trus dicocol gula jadi deh lalapan teh hijau.. Terasa aneh karena disepanjang jalan itu pula, banyak muda-mudi yg lagi pacaran.. Ladalah, kenapa ga sekalian pacaran di kebun binatang aja sih..

Didepan udah keliatan camp retribusi ke curug.. Kita masuk, cari parkiran, trus lanjut tidur.. Hmmm, nggak.. Kita jalan menuju curug.. Ralat, bukan kita tapi cuma saya dan si Solo yg naik.. Lainnya..?? cuma nunggu di deket parkiran.. Ah, mereka cemen..

Tempatnya masih asri, sepi, dan banyak lintah.. Baru beberapa meter kita jalan, udah dikejutkan oleh lintah yg nempel di kaki.. Ngilu rasanya, mirip sakit kepala tapi dikaki (gimana rasanya tuh..??)..

Oke, keep moving.. Kira-kira jalan sekilo, hal tak diduga terjadi.. Bukan, saya nggak pipis dicelana, tapi jalannya bercabang.. Saya dan Solo rada bingung.. Keinget arahan penduduk di camp tadi, katanya “Jalan lurus aja Jang..” Nah, saya nggak yakin mereka pernah kesini sebelumnya..

Cling, saya dapet ide.. Saya ambil hengpon berniat nelpon temen dibawah.. Tapi.. No Signal..!! Bagus, jadi ga bisa nanya dan yg ngeselin, saya juga ga bisa update facebook.. *sigh*

Dengan sedikit ilmu yg saya dapet sewaktu menjadi anggota pecinta alam, kita nyari sesuatu yg mungkin bisa dijadikan petunjuk.. Dan saya nemuin bungkus rokok dan permen di sisi sebelah kanan.. Dengan mantab saya bilang ke Solo “Cuy, lewat sini..”

Kita pilih sisi sebelah kanan.. Awalnya jalannya biasa saja, sampe tiba-tiba menanjak..menanjak..dan makin menanjak.. Suara air juga makin ga terdengar.. Jangan-jangan kita nyasar, jangan-jangan bukan ini jalan ke air terjun, jangan-jangan Krisdayanti jadi cerai dari Anang (lho??).. Saya bilang ke Solo, “Lo, gimana kalo kita coba sisi yg sebelah kiri..” Akhirnya kita turun dan mencoba sisi sebelah kiri..

Disisi ini, jalannya landai dan suara air masih terdengar jelas.. Saya pikir ini adalah jalan yg benar.. Tak lama kemudian kita nemuin papan pengumuman.. “Lo, ada petunjuk..!!” *girang* Kita samperin tuh papan lalu kita membaca informasi yg sangat penting.. “AWAS BABI HUTAN” Kampreeeeett..!! Ternyata disini juga nginep salah satu binatang paling jijay didunia perhewanan.. Jangankan liat raut idungnya, denger namanya aja saya udah merinding disco.. Keputusan terakhir..?? Kita menyudahi wisata ke curug..

Categories: Jalan-jalan