“…ngayogjakarta, kuthane aman, berhati nyaman
kota seniman, kota pelajar, lan kabudayan..”
Pernah dengar lirik lagu diatas..?? Ya.. lagu dari grup Genk Cobra itu banyak bercerita tentang kota Yogyakarta. Kota seniman dan kota pelajar yang penuh dengan kebudayaan.
Merupakan salah satu dari 2 daerah istimewa di Indonesia selain Aceh. Kenapa diberikan status tersebut?? Karena pada masa penjajahan wilayah ini diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus wilayahnya sendiri dibawah pengawasan pemerintahan penjajah tentunya. Tidak seperti wilayah lain yg langsung dibawah kekuasaan penjajah secara penuh.
Dan Kretek12 Jakarta mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kota ini.
Rabu 08042009 rencana perjalanan terjauh Kretek12 Jakarta akhirnya kesampaian. Kota yg beruntung mendapat giliran pertama yaitu Yogyakarta.
Kretek12 Jakarta terdiri dari Bayu, Eko, Dani, Tukul, Wahyu, Fendi, Lies dan Mifta. Seharusnya Cahyo dan Gufron ikut dalam liburan kali ini. Namun pekerjaan yg harus segera diselesaikan, membuat mereka urung ikut bergabung. Perjalanan ini bertema backpacker menggunakan jasa kereta api ekonomi Bengawan. Berangkat dari stasiun Tanah Abang pukul 20.00. Perjalanan kurang lebih memakan waktu sekitar 12 jam. Capek..panas..pegel campur jadi satu.
Capek..panas..pegel berangsur-angsur menghilang berubah menjadi riang setelah kira-kira pukul 08.00 kaki-kaki ini menginjak tanah Yogyakarta. Sambil mencari sarapan pagi disekitar stasiun, kita menghubungi beberapa teman Kretek Jogja. Andik, Robby, dan Alfian datang menjemput dan mengantarkan kita sampai penginapan yang telah dibooking beberapa hari yg lalu.
Di hari pertama ini kita menyusuri jalan Malioboro yg sangat terkenal di Jogja. Berbagai pedangang kaki lima berjubel sepanjang jalan menjajakan dagangan mereka. Dari kerajinan tangan seperti blangkon, gelang-gelangan, batik, baju dalang, dll. Searah dengan jalan Malioboro, akhirnya kita sampai di Keraton Place atau kediaman raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X. Namun sayang jadwal berkunjung ke Keraton sudah usai karena hari terlalu sore. Perjalanan pun dilanjutkan ke alun-alun selatan yg tak jauh dari Keraton.
Di alun-alun, ada satu permainan menarik. Masyarakat disana menyebutnya “Sikepan”. Menarik karena jika dilihat mungkin kita merasa mudah untuk melakukannya. Namun setelah dicoba, ternyata jauh dari kata mudah. Dalam permainan ini kita hanya dianjurkan untuk berjalan melewati jalan diantara 2 pohon besar dengan mata tertutup dan tanpa dipandu. Dan konon jika kita berhasil melakukannya, maka keinginan kita akan terkabul. Kecuali Breq dan Jembel yg tidak pernah berhasil, ada beberapa diantara Kretek ternyata berhasil melakukannya. Entah karena kebiasaan jalan dengan mata tertutup atau keberuntungan, yg pasti mereka mampu melewati diantara 2 pohon tersebut. Semoga apa yg mereka inginkan benar-benar terkabul. Amien…
Hari kedua di Jogja. Inilah acara intinya. Kita berkunjung ke beberapa tempat wisata di sekitar Jogja. Dengan menyewa kendaraan travel, pertama-tama kita melawat ke Candi Borobudur. Candi yg sangat megah peninggalan nenek moyang kita. Pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Terdiri dari stupa-stupa yg didalamnya terdapat sebuah patung. Mitosnya jika setiap pasangan berhasil menyentuh tangan dari patung itu, hubungannya akan langgeng dan bahagia.
Puas di Borobudur, perjalanan berlanjut ke Kaliurang. Perkiraan awal tempat ini mungkin berhubungan dengan udang (urang dlm bahasa jawa). Ternyata salah. Kaliurang adalah tempat wisata air terjun kecil (grojokan jarene Dani). Tempatnya seperti bukit, dipuncaknya terdapat menara pengawas. Untuk mencapai menara tersebut harus mendaki sejauh 500 meter. Ya, hanya 500 meter. Tapi capeknya minta ampun.
Setelah capek naik turun bukit di Kaliurang, liburan kita berlanjut ke pantai di selatan Yogyakarta, Pantai Parangtritis. Namun sayang karena cuaca yg agak mendung, kita tidak bisa menikmati dan mengabadikan sunset yg katanya sangat indah. Waktu yg beranjak malam, akhirnya kita mengakhiri perjalanan wisata di hari kedua ini. Kembali ke hotel untuk beristirahat.
Belum sempat kita beristirahat, ternyata ada kejutan lain yg akan diberikan kepada Fendi. Ya, hari ini adalah hari terakhir dia berusia 20 tahun. Karena tepat pukul 00.00 nanti usianya bertambah menjadi 21 tahun. Terasa spesial karena malam itu datang seseorang dari jauh. Yusnita dari Ngawi secara khusus datang hanya membawa satu misi yaitu menjadi yg pertama mengucapkan selamat ulang tahun. Dan kedatangannya pun tanpa sepengetahuan Kretek Jakarta ataupun Fendi sendiri. Kue tart pun sudah disiapkannya menjelang malam pergantian hari.
Tepat pukul 00.00 dimana Fendi yg sepulang dari jalan-jalan langsung tidur karena tampak lelah dikejutkan oleh perayaan kecil ini. SURPRISEE.. Kita pun larut dalam pesta.
Selamat ulang tahun my brother.. All the best wishes and prays may bless to you..
Hari ketiga. Hari berbelanja dan berburu oleh-oleh. Check out dari hotel sekitar pukul 10.00 kita langsung menyerbu padatnya jalan malioboro. Ada satu tempat sekitar malioboro yg menjual batik dan kerajinan tangan khas Jogja, yaitu Mirota batik. Di tempat ini seakan jauh dari kata sepi. Setiap saat selalu berdatangan pengunjung entah itu hanya melihat-lihat ataupun berbelanja. Pengunjungnya pun beragam. Tak hanya wisatawan lokal atau masyarakat sekitar, wisatawan asing juga banyak yg berbelanja di toko ini. Kita pun berhasil memborong beberapa barang dari toko ini.
Ternyata memborong barang belum memberi kepuasan pada kita disini. Masih ada satu oleh-oleh yg belum didapat. Apa itu..?? Yak betul, Bakpia Pathuk. Makanan khas Jogja yg satu ini memang tidak boleh terlupakan. Kontur kuenya yg lembut dan empuk, menjadikannya salah satu oleh-oleh wajib dari Jogja. *ya iyalah.. masa mau bawa gudeg ke jakarta..?? gendeng koen Breq.. 
Tersedia dalam pilihan berbagai rasa. Ada kacang hijau, strawberry, keju, dan coklat. Ada beberapa tempat yg menjual Bakpia ini (sekitar malioboro), yg terkenal yaitu Toko Bakpia 25. Tanpa basa-basi lagi, kitapun meluncur ke TKP naik becak.
Batik sudah, bakpia sudah, tinggal menunggu waktu pulang ke Jakarta. Perjuangan mendapatkan tiket balik pun tak kalah menegangkan. Malam sebelumnya kita sudah rembug untuk balik ke Jakarta menggunakan kereta api. Paginya, Wahyu ditemani Alfian menuju ke stasiun Lempuyangan. Dan wow..!! Antriannya hampir menuju jalan raya. Kita tak mau ambil resiko ikut mengantri karena kalaupun dapat, kemungkinan besar adalah tiket berdiri. Lalu Wahyu dan Fian lekas beranjak dari Lempuyangan ke stasiun Tugu. Hasilnya sama : Nihil. Seluruh kereta Eksekutif dan Bisnis ke Jakarta habiss. Damn..!!
Rapat pleno diadakan di detik-detik menjelang check out dari Hotel. Ada yg usul kita balik tetep naik kereta tetapi menuju Bandung terlebih dahulu, lalu estafet ke Jakarta. Namun karena waktu tempuh yg diperkirakan bakal lebih lama, menjadikan usul tersebut menguap bagai kentut.. 
Usul lainnya yaitu menggunakan jasa Bus. Searching tiket dimulai. Mbah Google menjadi andalan. Beberapa nomor telepon telah kita hubungi dan hasilnya tetap menggantung.
Intinya sampai menjelang siang hari, tiket balik ke Jakarta masih belum bisa dipastikan. Tiba-tiba ada seseorang yg nyeletuk mengatakan “Travel”. Sip, ide bagus. Kenapa tidak terpikir dari tadi. Dengan jasa Travel agent, kita bisa bersantai didalam mobil dan diantar sampai depan (gang) rumah.
Rapat mulai menunjukkan titik terang, ketika kemungkinan mendapatkan tiket datang dari 2 Travel Agent. Mereka menyatakan tiket untuk 8 orang ke Jakarta masih tersedia. Bedanya hanya pada harga dan waktu konfirmasi. Travel Agent A mematok harga IDR 160K dan meminta waktu konfirmasi ketersediaan tiket sekitar 30 menit. Travel Agent B memasang harga IDR 170K dan hari ini juga tiket bisa diambil. Dengan banyak menimbang, akhirnya kita menjatuhkan pilihan pada Travel Agent B. Apalah arti IDR 10K kalau hati tenang karena tiket ditangan.
Sambil menunggu mobil jemputan datang (baca:travel), kita sempatkan berkunjung ke Benteng Vredeburg. Benteng ini dibangun di dekat Kraton pada zaman londo (Belanda). Awalnya benteng ini digunakan Belanda untuk ikut menjaga stabilitas keamanan wilayah Jogja. Namun usut punya usut, ternyata benteng ini difungsikan untuk memonitor gerak-gerik pihak Kraton jika sewaktu-waktu melakukan perlawanan. Dengan tiket masuk yg cuma seharga jagung rebus yaitu IDR 750, para pengunjung bisa melihat-lihat ratusan diorama yg menceritakan perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan yg juga menjadi saksi jalannya sejarah bangsa Indonesia melalui berbagai peralihan fungsi, sejak zaman Pemerintahan Kolonial Belanda hingga Pemerintahan RI.
Hari beranjak sore dan mobil travel sudah menunggu. Liburan telah usai saatnya kembali ke Jakarta. Kembali ke rutinitas sehari-hari dengan membawa pengalaman baru, cerita baru, suasana baru, dan yg pasti membawa semangat baru.
Goodby Yogyakarta.. Never Ending Asia. We’ll be missing you..
——-
Terima kasih kepada temen-temen Kretek Jogja yg telah memberikan waktu berharganya menemani Kretek Jakarta berwisata. Alfian, Robby, Nina, Andik, Trisna. Miss you..
Juga kepada Titien dari Surabaya, yg menyempatkan ikut bergabung. Ente paling nuarsis Tien.. hehe..
Dan juga kepada Yusnita yg telah memberi warna lain dalam liburan kali ini. Jauh-jauh datang dari Ngawi membawa kado yg sangat istimewa. Momen yg sangat indah..
Untuk Cahyo dan Gupron, kita juga sedih ente ga bisa ikut. Laen kali ente ga boleh kancrit..
Tetap sehat, tetap semangat supaya kita bisa tetap jalan-jalan dan makan-makan..
Kretek12 maknyuuusss..
See you on next trip..