Desember Sempurna

Bulan Desember ini sepertinya menjadi bulan yang membahagiakan untuk saya.
Kenapa? Karena ada dua hal penting yang menjadikannya demikian.

Pertama, bisa dilihat dari postingan saya sebelumnya bahwa istri saya sedang hamil. Ini yang paling membahagiakan dari semuanya. Janin yang ada di perut istri saya adalah titipan yang akan saya jaga dan bahagiakan sampai akhir hayat saya ­čÖé

Yang kedua, nah ini yang menjadikannya lengkap. Saya lolos SIMAK UI. Hehe.
Mungkin untuk sebagian orang, hal ini merupakan hal yg biasa saja. Tapi untuk saya, lolos SIMAK adalah hal yg membanggakan. Setelah lulus kuliah S1 di perguruan tinggi swasta, rasanya masih belum sreg di benak saya. Entah kenapa saya masih merasa kurang. Kurang pinter mungkin (lha kuliah S1 aja over dosis 7 tahun). Plus karena sebelumnya tidak kuliah di perguruan tinggi negeri.
Akhirnya niat pun bulat untuk melanjutkan pendidikan di universitas negeri. Dengan dukungan keluarga, terutama istri tercinta, pilihan pun jatuh ke UI.

Awalnya lumayan berat, sampai pekerjaan pun dinomorduakan demi fokus lulus ujian. Dukungan istri makin hari makin besar. Apapun keputusan yang saya ambil dia 100% dibelakang saya. Ini yang membuat saya makin nothing to lose sampai akhirnya hari H ujian dilakukan dan hari dimana pengumuman diterima.

Buat saya melanjutkan pendidikan adalah hal yang perlu. Selain untuk mengembangkan diri, melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi adalah tuntutan zaman. Zaman sekarang sudah berubah, banyak lulusan sarjana masih muda-muda dan jumlahnya banyak. Oleh karena itu, jika ingin kualifikasimu diatas rata-rata dan ingin mendalami ilmu juga karakter yang lebih matang, maka jangan ragu untuk melanjutkan pendidikanmu.

Satu lagi yang terpenting untuk saya adalah ingin membuat anak saya kelak bangga kepada ayah ibunya. Dan menjadikannya termotivasi supaya lebih baik dari orang tuanya ­čÖé

Sekarang tinggal satu langkah lagi untuk menaikkan status dari calon mahasiswa menjadi mahasiswa baru. Yaitu … mbayar!!

Monggo kisanak, mbok menowo sampeyan mau nyumbang saya terima dengan senang hati.

Bingung yang Membahagiakan

Agak bingung sebenarnya mau mulai dari mana. Sudah 3 tahunan sepertinya ndak ngunjungi blog ini buat nulis-nulis.
Jadi satu┬ákalimat … backspace. Dua┬ákalimat … backspace.
Ah, jari-jari jadi bego begini mau nulis.

Selama bingung itu pun sudah segelas kopi (menuju gelas kedua) dan jajanannya mampir ke perut.
Senyam-senyum sendiri sambil lihat 2 garis lurus sejajar..
Senam Gemu Fa Mi Re lalu nengok lagi … masih sejajar..

“Jane ngopo tho kowe ?”

….
…..
……
…….
……..

Jadi begini …

….
…..
……
…….
……..

emmm .. nganu …

….
…..
……
…….
……..

istri saya sedang hamil … dan saya sangat bahagia..┬á­čśŐ

I love you both

Syarat Pembohong

Menarik ini, seorang teman mengeluh tentang teman baiknya yang tega membohongi. “Bukan cuma apa yang dibohongi, tapi siapa yang membohongi, itulah yang menyakitkan hatiku,” kata si teman ini.

Saya tidak hendak meyangkal pernyataannya. Begini, pertama, ndak baik pihak sedang menderita bukan mendapat bantuan, tetapi malah mendapat penyangkalan. Kedua, semakin dekat seseorang dengan kita, akan menjadi penuh harapan kita kepadanya. Itulah kenapa dibohongi teman dekat, dua kali lipat kesakitannya. Karena menjadi selalu baik dan selalu dipercaya, itulah harapan kita kepada teman dekat. Menjadi semakin dekat, semakin banyak syarat yang kita tetapkan kepadanya. Maka ketika ia semakin dekat tapi semakin tidak bisa dipercaya, adalah kesakitan ekstra.

Tapi saya tergoda dengan kata “tapi” yang jamak menjadi kebiasaan hampir seluruhnya dari kita ketika sedang berhadapan dengan persoalan tertentu. Misalnya jika kita adalah pihak bermasalah dan butuh nasehat. Contohnya begini, “kamu ngerti perbuatanmu itu sesat. Maka bertobatlah.” Percayalah, sembilan dari sepuluh peminta nasihat cenderung akan menutupnya dengan kata, Tapi.

Ada yang, “tapi kan tidak mudah untuk bertobat begitu saja.” Ada yang, “tapi butuh waktu dong.” Ada yang, “sudah kucoba, tapi gagal melulu.” Begitu juga dengan teman yang sedang dibohongi ini. Kata “tapi” tampak menjadi persoalan tebesarnya. Kata itu jauh lebih membuatnya menderita, ketimbang perasaan kehilangan sesuatu hasil dari dibohongi. “Tapi kan dia teman dekatku. Sudah seperti keluargaku,” begitulah fokusnya terus menuju.

Jadi betapa kata “tapi” itu adalah biang persoalan besar dalam hidup. Baiklah say jelaskan urut-urutannya: dibohongi/ditipu dan kehilangan itu jelas sudah penderitaan. Tapi tenyata kita merasa tidak cukup menderita dan butuh menambahnya dengan menu ekstra, yakni karena teman baik itulah penipunya, teman dekat itulah pembongongnya. Semua ini gara-gara ada banyak syarat yang kita tetapkan atas segala sesuatu, termasuk kepada para teman baik, teman dekat dan kepada para penipu itu.

Kepada teman dekat itu misalnya, kita tetapkan syarat bahwa yang dekat itu selalu harus baik, terpercaya, tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menipu. Padahal kedekatan dan kepercayaan itu sesuatu yang sama sekali berbeda. Bagaimana mungkin dua soal yang berbeda harus dipaksa untuk menjadi sama dan satu. Pemaksaan itulah yang mendatangkan bermacam-macam persoalan dalam hidup. Maka jika rumusnya diubah, bahwa orang dekat juga boleh menipu, bahwa sahabat juga boleh berbohong, bahwa teman baik juga boleh menjadi buruk, bahwa kebaikan juga boleh dibalas keburukan, berbeda pula perasaan kita kepadanya.

Kata boleh ini kalau ndak hati-hati, juga akan mendatangkan kata “tapi” lagi. Misalnya, “tapi kan kejam sekali sudah diberi kebaikan malah membalas keburukan.” Iya sih, tapi kan boleh, karenanya ternyata itu semua bisa terjadi. Lalu siapa yang memperbolehkan, ya hukum kemungkinan itu sendiri.

Kepada sesuatu yang mungkin, manusia hanya bisa diberi ruang untuk kompromi. Tersedia berbagai bentuk pilihan kompromi, mulai dari yang rendah dan murah, hingga yang mahal dan tinggi. Tergantung selera dan kemampuan sampeyan. Boleh menderita sambil ngomel lalu mengutuk kanan-kiri, boleh pula menderita sambil tetap menyalami orang-orang seperti biasa sambil ngobrol seolah ndak pernah terjadi apa-apa. Sesuatu yang mungkin terjadi akan tetap terjadi jika memang harus terjadi, terlepas apakah kita menolak atau menyetujui!

Coklat Bahagia

Ngemil coklat sore itu agak berbeda dari sebelum – sebelumnya. Di sela – sela ngobrol ngalor ngidul, seorang teman mencoba melempar teka – teki.

“Coba tebak, coklat ini isi kacang, susu, atau stroberi?”, kata teman itu sambil memegang sebutir coklat.

Kami semua mencoba menebak coklat tersebut isinya apa. “Susu”, saya menjawab. Benarkah? Salah. Ternyata isinya kacang. Ia mengambil satu butir lagi, lalu meminta kami menjawab kembali.

“Begitulah hidup, seperti coklat ini, kita tidak pernah tahu apa sebenarnya yang akan kita dapat”, kata teman saya ini yang tiba – tiba bicara serius.

Kita semua berhenti tertawa. Merenungi sejenak kalimat teman saya tersebut. Lantas spontan terpikir, apa hubungannya hidup dengan coklat?

Saya sendiri tiba – tiba teringat dengan apa yang dikatakan Forrest Gump ketika menirukan kalimat ibunya di film yang berjudul sama. Dia berkata, “Mom’s said: life is like a box of chocolates, you never know what you’re gonna get.” Karena banyaknya coklat di dalam box, kita ndak pernah tahu akan mendapat coklat isi kacang, susu, atau stroberi.

Di pikir- pikir, benar juga apa kata teman saya ini. Ya memang begitulah hidup, kita ndak selalu mendapat apa yang kita mau. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang senang, kadang susah. Kita juga ndak bisa merancang hidup seperti membangun rumah atau gedung.

Namun, dalam kenyataannya, ada saja satu-dua orang yang kecewa ketika keadaan berubah. Selalu ada orang yang ndak bisa berdamai dengan hatinya, dengan apa yang diperolehnya pada suatu waktu. Mungkin mereka mengira bahwa harta, kehormatan, dan kekuasaan bisa menghapus rasa susah selamanya. Baju dan arloji bermerek, gadget teranyar, rumah mewah, mobil mewah dianggap membuat hati senang selamanya.

Padahal, menurut ilmu bahagia (ilmu anyar iki jeh), dalam hidup itu–siapapun dia, apapun jabatannya–pastilah sebentar susah, sebentar senang. Tak mungkin orang senang selamanya, susah selamanya. Dan sumber susah-senang ini adalah keinginan kita, yang kadang mbengkak, kadang juga nyusut.

Kenyataan bahwa setiap orang mengalami sebentar susah sebentar senang itu merupakan suatu kebenaran dalam hidup. Kebenaran itu harus dimengerti oleh setiap orang, agar bisa hidup secara benar dan sehat. Orang yang berpegang pada kebenaran itu akan mencapai rasa damai, rasa sama, rasa tabah, rasa bebas atau tanpa konflik dengan kenyataan yg dialami dalam menghadapi apa saja. Rasa – rasa memacam ini menjadi dasar bagi kebahagiaan hidup manusia dan keharmonisan dalam pergaulan dengan orang lain. Ribet ya? Hehehe. Oke, singkatnya, dia akan masuk ke dalam surga ketentraman.

Nah, sebaliknya, jika orang ndak mengerti akan kebenaran itu, ia akan berbuat sesuatu yang ndak sejalan sama kodrat keinginan yang semestinya, sehingga ia jatuh ke lubang neraka “rasa iri dan sombong” serta “rasa sesal dan khawatir.” Dan rasa – rasa ini memicu timbulnya konflik, pertengkaran atau perselisihan, sehingga mendatangkan penderitaan.

Lantas, apa itu berarti kita harus pasrah, ndak berbuat apa – apa dalam hidup, ongkang – ongkang kaki saja? Lha ya sampeyan salah. Tentu saja tidak. Bagaimanapun, manusia tetap punya kebutuhan – kebutuhan pokok, keinginan, atau harapan lain. Yang jadi soal itu jika kebutuhan, keinginan, dan harapan itu tadi, melampaui kemampuan kita yang sebenarnya, kenyataan kita yang sesungguhnya. Dan kita ndak pernah mengakui kelemahan, kekurangan, serta ketololan diri sendiri. Selalu saja tergoda untuk merasa paling pintar, paling bijaksana, dst.

Karena itu, ketahuilah dirimu sendiri. Kenali perasaan, keinginan, pikiranmu. Setelah itu ndak ada salahnya berdamai dengan kenyataan yang kita terima sesuai dengan kemampuan kita. Toh, dalam diri setiap orang ndak ada yang senang selamanya atau susah selamanya.

Jenius juga teman saya ini. Dari coklat dia bisa mengurai bagaimana seharusnya kita hidup di dunia ini. Mari berdamai dengan hati dan makan coklat nikmat ini.

Sampeyan mau coklat?

Jodoh, Cinta Dan Harta

Ndak perlu banyak tulis, baca saja email dari Mas Agus di bawah ini yg menarik sekali :
—-

Tidak salah orang memperhitungkan harta dari orang yang akan menjadi suami atau isterinya, karena harta juga merupakan kebutuhan primer dan sekunder manusia. Nilai harta bukan pada jumlahnya tetapi pada dari mana dan untuk apa. Jika orang memperoleh harta banyak dari usahanya yang halal, maka itu adalah karunia Tuhan, dan jika harta yang banyak itu digunakan untuk membuat kemaslahatan sebanyak-banyaknya bagi keluarga, masyarakat dan bangsa, maka itu adalah sebesar-besar ibadah. Oleh karena itu obsessi orang terhadap harta (ketika sedang berfikir, sedang melakukan penelitian, ketika sedang merintis) sudah  bisa bermakna ibadah. Lahirnya ia seperti orang yang cinta harta, tetapi hakikatnya ia adalah orang yang sedang menggali anugerah Allah. Selanjutnya  ketika sudah berhasil menghimpun harta kekayaan, tantangannya adalah untuk apa harta itu, untuk memuaskan syahwat dirinya dengan foya-foya? untuk membangun kerajaan keluarga agar tujuh kerunannya sudah terjamin masa depannnya ? atau untuk memperbesar kemampuan membela kebenaran dan memeratakan kesejahteraan orang banyak ?

Perilaku manusia juga dipengaruhi oleh pola konsumsi. Makanan yang bergizi akan berpengaruh positif pada kemampuan fisik dan mental, makanan yang kurang bergizi akan membuat orang lemah fisik dan bisa juga lemah mental. Demikian juga makanan yang halal akan membuat konsumennya memiliki etos halal dan mudah melakukan perbuatan yang halal ,  resisten terhadap perbuatan yang haram. Sebaliknya makanan yang haram meski bergizi akan mendorong konsumennya mudah melakukan perbuatan haram.  Kata Nabi dalam hadisnya, bahwa sepotong daging dalam tubuh kita yang berasal dari makanan haram akan mendorongnya pada perilaku yang menggiring kita ke neraka (qith`at al lahmi min al haram ahaqqu ila an nar).  Kata nabi juga, syaitan itu berjalan dalam tubuh manusia mengikuti jalan peredaran darahnya. Artinya orang yang hidupnya dibesarkan oleh produk syaitan (kejahatan) maka ia akan selalu terseret pada perbuatan syaitan (kejahatan). 

Adalah keliru, mengharapkan kebahagiaan abadi dalam rumah tangga semata-mata mengandalkan kesejahteraan materi. Kebahagiaan materi akan menjadi kekokohan iman jika orang terlibat kerja keras dan halal ketika memperolehnya.  Bekas orang miskin yang kemudian sukses menjadi orang kaya raya secara halal, ia akan menceriterakan kemiskinan masa lalunya dengan senyuman indah. Sebaliknya orang miskin yang dulunya adalah pewaris kekayaan besar tetapi kemudian bangkrut karena tidak memiliki etos kerja yang benar, maka ia dengan sedih dan pilu menceriterakan kejayaan masa lalunya. Keindahan rumah tangga adalah jika dari awal, pasangan suami isteri itu berkesempatan  melewati tahap-tahap perjuangan hidup hingga sukses bersama. Selanjutnya adalah kebahagiaan orang tua, jika sukses mewariskan etos kerja keras dan halal kepada anak-anaknya, bukan sekedar mewariskan hartanya yang banyak. Sudah barang tentu sungguh suatu keberuntungan, jika seorang wanita dilamar oleh laki-laki yang sholeh, sebagaimana sungguh beruntung seorang pemuda mendapatkan istri yang setia dan sholehah. Terus bisa sama-sama menjadi orang kaya dan berkah, membawa kebaikan dunia akhirat.

By M. Agus Syafi’i

Bal Balan

Guoooolll…!! Gol..gol..gol..goll!!!

Seruan tanda bola masuk gawang baru terdengar ketika tv saya nyalakan. Ternyata timnas Indonesia U-22 sedang bertanding melawan Jepang. Dan skornya sudah 3-1 untuk Jepang, saya ndak heran. Tetiba kepikiran kok ya bisa, mosok dari 200 juta jiwa lebih (menurut lagu bang Rhoma Irama) warga negara Indonesia ndak ada yg bisa main bola dengan bagus. Lha Togo yg penduduknya cuma separuh dari Jakarta pernah ikut Piala Dunia kok.

Lha..ya ndak ngerti juga sayanya. Sebagai penggemar berat sepak bola tentunya saya kecewa kalau timnas kita bermain ndak sesuai dengan ekspektasi pemirsanya. Karena kualitas pemainnya? bisa jadi. Pembinaan pemain mudanya? masuk juga. Atau kualitas kompetisinya? nah, ini juga punya andil. Tetapi sejauh pengetahuan saya yg tidak jauh itu, di Indonesia tidak ada sepak bola, adanya sepak terjang gitu kok dan interaktif lagi, penontonnya kadang-kadang ikut … ikut nyepak dan ikut nerjang. Huebat tenan!

Coba saja, saya pernah diwanti-wanti teman agar tidak lewat jalan itu, karena lagi ada pertandingan sepak bola di stadion dekat situ. Ah, yang beringas, menakutkan dan merusak itu kan hanya sekian persen saja, hanya segelintir kok jumlahnya, sak upil itu. Lho, kalau jumlah yg nonton itu sak stadion Senayan, sekian persen kan jadi banyak. Lagi pula upil siapa yg besarnya sebesar penonton beringas?

Mungkin sepak bola Indonesia perlu di rukiyah. Ganti nama organisasinya kalo perlu. Karena PSSI juga bisa diplesetkan menjadi Persatuan Sepak Sepakan Seluruh Indonesia, makin ndak bener. Makanya perlu penyegaran nama baru. Sampeyan punya ide ngasih nama apa?

Atau mungkin bisa diganti Persatuan Bola Sepak Indonesia. Lha..ngawur, nanti kontingen bulu tangkis marah gimana? ya ndak apa, toh mereka juga kalahan, ganti nama juga kalau perlu. Nama Persatuan Bola Sepak Indonesia juga meyakinkan kalau yg di sepak itu bola, bukan kaki, perut, kepala, bokong, atau bagian yg lainnya. Tapi kalau menurut kaidah bahasa, Persatuan Bola Sepak berarti kumpulan bola-bola yg disepak, bukan klub-klub sepak bola. Yowes tho…ora opo-opo, kalau bola-bola sudah berkumpul nanti para pemain bisa dapat bola satu-satu, jadi ndak perlu lagi sepak-sepakan rebutan bal.

Goooooollllll….!!! Hayah, kebobolan maning. Skornya 4-1 untuk Jepang. Modyar kowe!

3

Aku takut akan menjadi angka yg kesepian seperti angka 3. Padahal sebenarnya dia adalah angka yg baik dan benar.

Kenapa tigaku dijauhkan dari pandangan, dibawah sebuah lambang angka kuadrat?

Aku sebenarnya berharap, aku adalah angka 9. Karena angka 9 dapat merintangi muslihat setan ini hanya dengan aritmatika yg cepat.

Seperti 1,7321, hasil dari 3 kuadrat.
Seperti adalah kenyataanku.
Kesedihan adalah tidak rasional.

Ketika apa yg aku lihat??
Oh, suatu akar tiga yg lain.
Kudatangi diam-diam.
Bersama kami berkali untuk membentuk suatu angka yg kita pilih.
Bergabung menjadi sebuah integer.
Lalu kita melepaskan diri dari ikatan tak abadi kami.

Dan dengan sedikit sihir, lambang akar kuadrat kami menempel.

Dan cinta untukku telah diperbarui.. ­čÖé

Posted with WordPress for BlackBerry.